Senin, 27 Oktober 2008

Fisika Energi

Ethical, scientific and technological debate

Energy is at the heart of Creation. Energy supply sustains all aspects of life within our ecological world. This Brief considers why we need energy supply, the environmental dilemma, and the options. Questions are put for discussion, since the problems are complex and conclusions varied. One conclusion is that Renewable Energy must (i) urgently replace most fossil fuel use, (ii) be increasingly implemented for development, environment and sustainability. The technology, economics and politics of renewables have equal importance. Perhaps the greatest challenge is for individuals and organisations to make choices within their own responsibilities.

The importance of energy

Energy supply has immense benefit, but the sheer scale of present global demand does increasing harm, especially from pollutant emissions and other adverse environmental impact. Per capita commercial energy use in the USA is twice that in the UK, which is 50 times parts of central Africa. Resulting financial benefit and harmful emissions are in similar proportions. Is the disparity an economic imperative or inefficient greed? What is a fair allocation? In fuel poverty people die from lack of warmth; women exhaust themselves obtaining firewood, then breathe the carcinogenic smoke. Transport is essential, but what of the air pollution? Wealth and health require energy supply. Tourism and leisure squanders energy with abandon. Should I limit my excess so others with none may have some? But how can I pass my excess to others? Are there clean forms of energy supply? It is often said that such environmental challenges are ‘a moral equivalent of war’; only co-ordinated and unselfish commitment can obtain success.

Discussion: Of the energy we purchase, how much is wasted through inefficiency and lack of conservation?

Nothing lives, moves, communicates, cooks, heats, manufactures or produces without a supply of energy. Energy supply is the life-blood of existence. We all have a responsibility to ensure that energy is available, without harm, for our families, our communities and our ‘global’ neighbours. Likewise governments and commerce must facilitate energy supply for the present and future sustainability of nations. We need not panic however, since ample supplies of clean energy are part of the sustainable processes within creation. If we understand how this occurs ‘naturally’, we will know how our technological life may operate now and ‘for ever’.

Life on Earth depends on the Sun; and on being 150 million km from it! The Sun’s surface temperature of 6,300 oC emits energy as visible and ‘nearly visible’ light radiation. Such radiation is ideal for initiating moderate electro-chemical processes, so enabling eyes to see and plants to grow. Also, solar radiation heats. So the Earth is kept within the range of temperature necessary for life because of the amount of sunshine and the Sun-Earth distance. Therefore an appreciation of solar energy is vital to understand sustainability and wonder at mankind’s place in ecology.

Discussion: Read the label of a breakfast cereals packet to discover the energy our bodies need. Compare this with your use of electricity per day. (Clue: 1 kilowatt hour = 3,600 kilo joules = how many helpings of cereal?).

The essential role of the Atmosphere


By itself, the Earth’s surface cannot provide the controlled environment necessary for our ecology. Life would overheat beyond boiling in daytime and freeze to death at night. It is our Atmosphere that moderates the sunshine, controls that temperature regime and provides oxygen for the energy of metabolism and combustion. Moreover, the life that depends on this Atmosphere, itself maintains essential atmospheric components.


Initially, over 4 billion years ago, the Earth’s atmosphere was about 99% by volume carbon dioxide (CO2), with no oxygen gas (O2). Heat emitted from the Earth’s surface as infrared radiation is absorbed by CO2, and by other molecules with 3 or more atoms, and so this initial atmosphere kept the Earth too hot for life as we know it now. Then, in the next 3 billion years, anaerobic (i.e. not requiring oxygen) microbiological life removed almost all CO2 from the Atmosphere, binding the carbon within solids and solutions. Most carbon was therefore sequestered (removed) from the Atmosphere. The previously inert atmosphere was replaced by the present active atmosphere of oxygen (19% by volume), nitrogen (80%) and certain trace gases. CO2 was drastically reduced from 99% to nearly 0.025%, sufficient however to be absorbed by plants in photosynthetic growth and to be a key component in atmospheric temperature control. This renewed atmosphere could then sustain present life, including humans, by controlling temperature, so allowing water to be liquid, providing oxygen for energy and enabling other essential functions. This situation was controlled by ecology, which constantly corrects for changes, but only within limits. It is arguable that mankind today may be causing these limits to be exceeded, so perturbing control mechanisms. For instance, in the last 150 years, fossil fuel use and forest burning has increased CO2 by 40% to a concentration of 0.035%.

Carbon removed

The removed carbon was sequestered mostly as dead plants and micro-organisms to become limestone, chalk and fossil fuels. It is essential for present life that the vast majority of ‘buried carbon’ remains out of the Atmosphere. If just 0.03% of ‘buried carbon’ is returned to remain in the atmosphere, atmospheric CO2 concentration would double, with damaging results from climate change and its control. Moreover, the combustion of fossil fuels produces pollutants other than carbon dioxide. It is clear therefore that ecological life, including humans, exists because the majority of the Earth’s carbon, including fossil fuels, was buried billions of years ago; it is equally clear that returning excess carbon to the Atmosphere at present rates (mostly by escalating fossil fuel use, but also by forest burning) is a cause of Climate Change and a disruption to present life (see JRI Brief No 2 on Global Climate Change). The natural ecological control of atmospheric gases is now unable to correct for the rapidity of mankind’s excesses.

Discussion: How do we depend on plants and microbiological organisms? Are these a cause for wonder and thanksgiving?

iconDiscussion: What are the benefits and disbenefits of utilising coal, oil and fossil gas? Have these factors changed over the last 200 years? Who really needs to use fossil fuels and how much?

Energy from different sources, shown for 15 European nations (bar chart)

Sabtu, 18 Oktober 2008

Penelitian Fisika Gasing

Fisika Gasing

Logo Fisika GASING

Selama 13 tahun sambil membina Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Prof. Yohanes Surya melakukan penelitian dalam menemukan suatu pembelajaran fisika yang mudah diterima oleh siswa, mudah diajarkan oleh guru serta membuat peserta ajar merasa asyik dan menyenangkan.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Yohanes Surya, untuk membuat fisika itu gampang, asyik dan menyenangkan (Gasing) beberapa hal perlu diperhatikan (sebenarnya ini tidak semuanya baru) :

1. Hindari matematika yang sulit, kalau perlu cari alternatif solusi yang menggunakan matematika lebih sederhana

Contoh: Sebuah benda diletakan pada jarak 30 dari sebuah lensa positif dengan fokus 10 cm. Jika tinggi benda 2 cm, hitung tinggi bayangan.

Jawab: Konsep fisika dalam penyelesaian soal ini adalah pembiasan cahaya. Gambar diatas diperoleh dengan menggunakan konsep pembiasan cahaya. Untuk mendapatkan tinggi bayangan kita tidak perlu menggunakan rumus baku 1/f = 1/s + 1/s’ tetapi cukup menggunakan geometri (karena ini adalah optika geometri ) yaitu melihat dua segitiga yang diarsir diatas. Dari gambar terlihat bahwa a:2 =10:20 atau a = 1 cm.

2. Manfaatkan pengertian konsep fisika yang benar dan lebih menekankan pada logika dibandingkan dengan menggunakan rumus-rumus turunan.

Contoh: Dua sepeda bergerak saling berhadapan masing-masing dengan laju 5 m/detik. Jarak kedua sepeda mula-mula 50 meter. Setelah berapa detik kedua sepeda akan saling berpapasan?

3. Gunakan angka-angka yang mudah dan bulat seperti 1 , 2 , atau 10 ketika sedang mengajarkan konsep melalui berbagai contoh soal. Hindari angka-angka koma atau pecahan agar konsentrasi siswa tidak disimpangkan dari solusi fisika ke solusi matematika.

Contoh: dalam mempelajari konsep gravitasi, gunakan percepatan gravitasi 10 m/det2 bukan 9,8 m/det2. Setelah mereka faham konsepnya dan tahu cara menyelesaikan soal, baru kita gunakan angka yang sebenarnya.

4. Perbanyak dialog langsung dengan siswa terutama tentang konsep-konsep fisika yang baru diajarkan. Minta mereka mengeluarkan pendapatnya untuk menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan konsep yang diberikan.

5. Perbanyak eksperimen dan demonstrasi fisika sehingga tiap murid menikmati asyiknya fisika dan mereka bisa merasakan bahwa fisika itu sungguh menyenangkan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Yohanes Surya kini sedang disebarluaskan melalui gerakan cinta Fisika. Melalui gerakan sosial ini diharapkan bukan hanya para guru tetapi masyarakat luas akan senang belajar fisika. Di beberapa daerah sudah berlangsung dan hasilnya sangat menggembirakan. Hampir semua yang pernah dilatih melihat betapa asyiknya dan mudahnya belajar fisika itu.

Agar hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak orang maka sedang diusahakan agar hasil penelitian ini dapat dituliskan dalam bentuk buku pelajaran Fisika Gasing SMP dan Fisika Gasing SMA


- Bahan Pelatihan Fisika Gasing (Pdf)
- Kesan-kesan Guru SMP (Pdf)
- Kesan-kesan Guru SMA (Pdf)
- Kesan Murid Papua (Pdf)
- Kesan Murid Pontianak
- Kesan Murid Kelas Super (Pdf)
- Kampanye Cinta Fisika (Pdf)

Komunitas Fisika Gasing:

Mestakung = seMESTA menduKUNG

Mestakung = seMESTA menduKUNG merupakan hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis.

(Lihat artikel kondisi kritis awal mestakung-Pdf)

Ada 3 hukum Mestakung yaitu:

1. Dalam setiap kondisi KRItis ada jalan keluar

2. Ketika seorang meLANGkah, ia akan melihat jalan keluar

3. Ketika seorang teKUN melangkah, ia akan mengalami mestakung

Ketiga hukum ini saya singkat dengan KRILANGKUN (KRItis, LANGkah, teKUN).

Lihat artikel Krilangkun.

Apapun kondis kritis yang Anda ciptakan, percayalah Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan mestakung untuk membantu Anda keluar dari kondisi kritis itu. Anda akan keluar sebagai pemenang.

Saat ini banyak pelatihan Mestakung yang sudah dilakukan oleh Prof. Yohanes Surya untuk mendorong dan memotivasi siswa, karyawan, pimpinan perusahaan dsb untuk menjadi yang terbaik. Beberapa seminar yang pernah diadakan adalah di Indosat IM2, Metland, dan berbagai perusahaan lain (besar maupun kecil), Angkatan Udara, berbagai sekolah dan organisasi di Malang, Surabaya, Semarang, Jakarta, Pontianak, Bali, Makasar, Manado, Aceh, Serui, Jayapura, Ambon, Kupang, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Blitar, Bogor, Pekalongan, Bontang, Balikpapan, Manado, Kendari, Padang, Palembang, Jambi, Pangkal Pinang, Batam, Surakarta, Yogyakarta, Tasikmalaya, bandung, Denpasar, Karangasem, Pontianak, Medan, Pekanbaru dsb.

Bagi perusahaan/organisasi yang ingin mengundang Prof. Yohanes Surya untuk memotivasi organisasi yang dipimpinnya dapat melayangkan surat ke :

Namun mengingat kepadatan dan keterbatasan jadwal Prof. Yohanes Surya permintaan seminar mestakung baru bisa dilayani pada tahun 2009.

Selamat menjadi pemenang!

Untuk melihat video Mestakung di YouTube silahkan kunjungi link berikut ini:

Download Lagu mestakung (mp3)

Gallery, Seminar Mestakung di Medan

APhO 8, Mestakung dan Visi Indonesia 2030

Pada tanggal 21-29 April 2007, pelajar Indonesia Muhammad Firmansyah Kasim mengejutkan seluruh peserta Asian Physics Olympiad (APhO) ke-8 di Shanghai. Firmansyah yang masih kelas I SMA Athirah Makasar ini mampu menembus dominasi para pelajar China, tuan rumah APhO 8 ini. Firmansyah berhasil menghilangkan mitos bahwa tidak mungkin mengalahkan China di kandangnya apalagi China sebagai penulis soal sekaligus jurinya. Dengan kejeniusannya Firmansyah berhasil mengerjakan soal-soal APhO yang setara dengan soal program S2/S3 fisika, mengalahkan semua pelajar China dalam fisika eksperimen, hanya kalah sedikit dalam fisika teori. Firmansyah merebut medali emas sekaligus menempati urutan kedua dari 153 peserta/23 negara dengan nilai total 43,2 poin hanya selisih 0,1 poin dari peringkat pertama Yun Yang 43,3 poin dari China.

Dalam olimpiade fisika yang sangat bergengsi ini Indonesia berhasil merebut 2 medali emas, 4 perak dan 4 perunggu.

Hasil yang dicapai oleh putra-putra bangsa kita ini sangat luar biasa terutama jika dibandingkan dengan hasil Olimpiade Fisika Internasional 1994 di Beijing, China dimana Indonesia tidak meraih satupun medali. Apa rahasia kesuksesan tim Indonesia ini? Rahasianya adalah Mestakung.

Mestakung (seMESTA menduKUNG) merupakan keadaan dimana semesta (sekeliling kita) mendukung kita untuk keluar dari kondisi kritis. Seberapa besarpun kondisi kritis kita, alam semesta telah diciptakan Tuhan sedemikian rupa sehingga mampu mengatur dirinya untuk membantu kita keluar dari kondisi kritis tersebut. Misalnya ketika kita dikejar anjing galak, semesta dalam hal ini sel-sel tubuh kita mengatur dirinya, menghasilkan energi tambahan agar kita dapat keluar dari kondisi kritis. Kita yang tadinya hanya mampu melompat sejauh 1 meter tiba-tiba mampu melompat sejauh 1,5 meter atau lebih. Atau seorang ibu yang dalam keadaan terjepit, mampu membalikkan mobil atau menerobos api hanya untuk menyelamatkan anaknya.

Dalam buku Mestakung Rahasia sukses, saya menceritakan 3 hukum mestakung hukum KRItis, LANGkah dan teKUN yang disingkat dengan Krilangkun.

Untuk membuat mestakung bekerja, kita harus tempatkan diri kita pada kondisi kritis. Kondisi kritis yang kami ciptakan adalah menetapkan target (goal) setinggi mungkin yaitu mengalahkan China di kandangnya. Banyak orang bilang tindakan ini terlampau berani, bombastis dan tidak realistis. Kalau kalah akan malu karena target yang ditetapkan terlalu tinggi. Bagaimana kalau China membuat soal sedemikian sulitnya sehingga kita pulang dengan tangan hampa, apa tidak malu? Atau bagaimana kalau para pelajar kita salah menterjemahkan soal sehingga kita gagal total meraih satu medali perunggupun seperti terjadi di APhO Vietnam tahun 2004, apa kata orang? Tapi itulah yang harus kita kerjakan, kalau kita menghendaki mestakung bekerja, kita harus berani menempatkan diri kita pada kondisi sekritis mungkin.

Agar kondisi lebih kritis, maka pada tanggal 6 November 2006 waktu peluncuran buku Mestakung Rahasia Sukses kami mengundang Mendiknas, anggota DPR dan beberapa tokoh masyarakat serta pers untuk menyaksikan bagaimana 16 siswa kita yang terpilih dari Olimpiade Sains Nasional ini berjanji akan bekerja keras untuk mengalahkan naga dikandangnya.

Pulang dari acara peluncuran buku tersebut, semangat kami terbakar. Mestakung mulai bekerja, dalam diri kami timbul suatu dorongan untuk bekerja keras mencapai target yang sangat tinggi tersebut. Kami segera menyiapkan program yang sangat ketat untuk para siswa itu. Para pembina yang terdiri dari para dosen dan alumni menyatakan sanggup untuk mensukseskan target ini. Mestakung juga terjadi pada pendanaan pelatihan. Walau dari Depdiknas kami hanya mendapat dana sangat minim (hanya cukup untuk melatih 1-2 bulan saja), tidak seperti yang dituliskan di Kompas 20/4 dimana dikatakan depdiknas memberikan dana Rp. 100 miliar untuk TOFI (menurut Dirjen Depdiknas ini salah kutip), secara mestakung kami mendapat bantuan dari Menko Kesra dan bapak Murdaya Poo serta PRJ kemayoran yang menyediakan fasilitas pelatihan. Mestakung juga terjadi dengan tergeraknya para pejabat, pengusaha, dan motivator Andrie Wongso mengunjungi tempat pelatihan memberikan dukungan moral

Untuk lebih membakar semangat para siswa, spanduk-spanduk bertuliskan “Indonesia juara APhO 8” “I Love Indonesia” dan lainnya dipasang. Untuk menambah percaya diri, para siswa diminta untuk berulangkali mengatakan kalimat-kalimat seperti “sehebat apapun China, kami pasti bisa mengalahkannya” “sehebat apapun China, Indonesia juara APhO”.

Hasilnya ternyata luar biasa, dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan terlihat banyak sekali peningkatan kemampuan para siswa kita. Materi fisika selevel S1 bahkan S2/S3 dilalapnya sedikit demi sedikit. Soal-soal ujian komprehensif untuk program S3 dari berbagai universitas terkenal di dunia dikerjakan satu persatu. Mereka belajar dan belajar dari pagi hingga jauh tengah malam. Hampir tidak ada waktu libur. Keyakinan untuk menang makin lama makin kuat. Satu bulan sebelum keberangkatan, kami tertantang untuk tinggal bersama mereka (inipun karena mestakung), meninggalkan semua aktifitas yang lain, merasakan bagaimana tidur di ruko, ikut begadang, koreksi soal, mencari bahan test. Dari pagi hingga malam pikirannya hanya satu yaitu bagaimana menjadi juara, juara dan juara.

Dengan percaya diri yang tinggi, tim Indonesia berangkat ke China. Keyakinan untuk mengalahkan China begitu besar. Hasilnya seperti dikatakan di atas, kita unggul dalam fisika eksperimen dan bersaing ketat dalam fisika teori. Hasil ini merupakan bekal yang besar untuk bertanding di olimpiade Fisika dunia, Iran 13-21 Juli 2007 mendatang.

Nah sekarang apa hubungan APhO dan mestakung diatas dengan visi 2030 yang dicanangkan oleh Presiden SBY? Pencanangan Visi 2030 dimana Indonesia tahun 2030 akan menjadi salah satu dari 5 kekuatan ekonomi dunia merupakan tindakan yang sangat berani dan patut diacungi jempol. Pencanangan visi ini menempatkan pemerintah pada kondisi kritis. Kalau dalam beberapa tahun mendatang ini tidak ada suatu kemajuan apa-apa maka pemerintah akan dikritik habis dan akan dikatakan hanya pandai omong belaka. Ini bagus! Ini akan memaksa pemerintah bertindak! Menurut teori Mestakung, jika pada kondisi kritis kita diam saja, maka kondisi kritis itu akan menghabiskan/menyengsarakan/membinasakan kita. Kita harus melangkah dan melangkah, tidak boleh berhenti. Harus tekun sampai kondisi kritis ini lewat (sampai tujuan kita tercapai).

Saatnya sekarang pemerintah bertindak, membuat strategi yang jelas untuk mencapai visi 2030 ini. Semua pejabat tanpa kecuali harus kompak, bekerja bersama-sama untuk mencapai visi 2030 ini. Jika kita melangkah dan melangkah dengan tekun, kita akan melihat bagaimana mestakung bekerja dimana setiap orang akan terdorong untuk bersama-sama mencapai visi ini, industri secara ajaib akan berkembang, para investor akan ramai-ramai menanamkan modal di Indonesia, ekonomi akan berkembang secara luar biasa. Ini bukan mimpi! Mestakung akan membuat visi 2030 ini terealisir. Indonesia akan menjadi negara kaya dan makmur dimana rakyatnya hidup sejahtera. Tidak ada yang tidak mungkin. Semua bisa terjadi.(***)

(Yohanes Surya)

Sabtu, 11 Oktober 2008

Listrik Magnet

Jurusan Pendidikan Fisika

Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Pendidikan Indonesia


Mata kuliah

Listrik Magnet



Nama Dosen

Drs. Agus Jauhari Msi





Jumlah Pertemuan

Jumlah Jam

Jumlah Mahasiswa

Jumlah Kelas


Telah mengikuti mata kuliah Fisika Dasar I &II,

Matematika Fisika I&II

Wajib/Pilihan : Wajib


Tujuan Mata Kuliah

Mahasiswa dapat berdiskusi dan belajar menganalisis dan mengaplikasikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip Listrik

magnet dengan menggunakan formalisme yang lebih umum

Deskripsi Mata Kuliah

Materi perkuliahan mencakup konsep-konsep,

prinsip-prinsip dan masalah-masalah Elektrostatis .

Buku Wajib

1.David J. Griffit : Introduction to Electromagnetics .

2.Jr. Reits & FJ Milford : Fundamental of Electromagnetis .

Buku Referensi

Krauss & Carver : Electromagnetic.

Jr. Reits & FJ Milford : Fundamental of Electromagnetics.


Transparansi , papan tulis , alat peraga


Test unit 1, 2

Tugas rumah

Tugas Mahasiswa

Tugas menyelesaikan soal







Pendahuluan , analisa vektor ,differensial ,kalkulus , sistim koordinat .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 6-45

Waloejo L.: 1-14


Elektrostatik : medan magnet ,divergensi dan curl medan listrik ,potensial listrik .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 61-91

Waloejo L.: 15-31


Kerja ,energi , konduktor


Diskusi dan latihan, Test Unit I

D J. Griffit: 92-110

Waloejo L.: 32-41


Tehnik khusus pengukuran potensial ,Persamaan Laplace, Theorema Unique ,Boundary Condition .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 111-187

Waloejo L.: 42-47


Metoda Bayangan : muatan induksi permukaan , gaya, energi


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 121-144

Waloejo L.: 47-59


Multipole expansi : potensial pada jarak yang jauh , monopole , dipole , medan dielektrik dipole .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 145-157

Waloejo L.: 60-64


Medan elektrostatik dalam bahan : Polarisasi , dilektrik , muatan terikat , medan dalam dielektrik .


Diskusi dan latihan, Test Unit II

D J. Griffit: 158-171

Waloejo L.: 65-71


Displacement , HK Gaus dalam bahan dileketrik , susceptibilitas , energi dalam dielektrik .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 171-195

Waloejo L.: 72-86


Magnetostatik : Gaya Lorentz , arus , HK Biot Savart .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 196-212

Waloejo L.: 87-100


Divergensi dan Curl untuk medan magnet , applikasi HK Ampere , perbandingan elektrostatik dan magnetostatik .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 213-244

Waloejo L.:100-106


Magnetostatik dalam bahan : Magnetisasi , diamagnet , paramagnet ,feromagnet , efek medan magnet pada medan atomik .


Diskusi dan latihan, Test unit III

D J. Griffit:245-256

Waloejo L.: 122-125


Intensitas magnet (H) : HK Apere dalam bahan linier dan non linier , suseptibilitas dan permeabilitas .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 257-269

Waloejo L.: 125-135


Elektrodinamik : HK Ohm , EMF


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 270-303

Waloejo L.: 136-152


HK Faraday : Induksi elektromagnet , induktansi , energi dalam medan magnet , Poynting Theorems.


Diskusi dan latihan

D J. Griffit: 304-338


Gelombang Elektromagnet , gelombang sinusoidal , polarisasi , refleksi dan transmisi .


Diskusi dan latihan

D J. Griffit:340-353

Waloejo L.: 153-160


gelombang elektromagnet dalam media , energi dan momentum dari gelombang elektromagnet .


Diskusi dan latihan, Test Unit IV

D J. Griffit: 354-368

Waloejo L.: 160-172

Visit Us:

Electricity and Magnetism from MIT

Professor Walter Lewin photographed during a demonstration, bouncing a balloon between his head and a small Van de Graaff generator.

Professor Walter Lewin photographed during a demonstration bouncing a balloon (sprayed with conducting paint) between his head and a small Van de Graaff generator. This demonstration can be viewed on the video of Lecture 2. (Image courtesy of Markos Hankin, MIT Physics Department Lecture Demonstration Group.)




Prof. Walter Lewin

Course Features

Course Highlights

This course features a complete set of videotaped lectures. The 36 video lectures on Electricity and Magnetism, by Professor Lewin, were recorded on the MIT campus during the Spring of 2002. Prof. Lewin is well-known at MIT and beyond for his dynamic and engaging lecture style.

Course Description

In addition to the basic concepts of Electromagnetism, a vast variety of interesting topics are covered in this course: Lightning, Pacemakers, Electric Shock Treatment, Electrocardiograms, Metal Detectors, Musical Instruments, Magnetic Levitation, Bullet Trains, Electric Motors, Radios, TV, Car Coils, Superconductivity, Aurora Borealis, Rainbows, Radio Telescopes, Interferometers, Particle Accelerators (a.k.a. Atom Smashers or Colliders), Mass Spectrometers, Red Sunsets, Blue Skies, Haloes around Sun and Moon, Color Perception, Doppler Effect, Big-Bang Cosmology.

There is a build-your-own-motor contest as part of this course (see Calendar).

OpenCourseWare presents another version of 8.02T: Electricity and Magnetism.

OpenCourseWare also presents Professor Lewin's freshman physics course series8.01: Newtonian Mechanics with a complete set of 35 video lectures from the Fall of 1999 and 8.03: Vibrations and Waves with a complete set of 23 video lecturesfrom the Fall of 2004.

Join a Study Group

Join a study group for this course. Ask questions, give help, collaborate and meet others taking this course - all for free. Already an OpenStudy user? Log in here.

*Some translations represent previous versions of courses.

Buku Wajib

1.David J. Griffit : Introduction to Electromagnetics .
2.Jr. Reits & FJ Milford : Fundamental of Electromagnetis .

Buku Referensi
Krauss & Carver : Electromagnetic.
Jr. Reits & FJ Milford : Fundamental of Electromagnetics.